Senin, 16 Februari 2009

SEKKAU KEMBALI BERDUKA











Di hari valentine 14 Februari, dimana banyak orang di jagad ini bersenang-senang dan bersayang-sayangan, Kapten Adm Lani Sriamtina – Pekas Sekkau – justru berduka cita. Anak kedua yang selama sembilan bulan dinantikan dalam kandungan, lalu dilahirkan melalui bedah Caesar pada “Hari Kasih Sayang” di RS Haji Pondok Haji, akhirnya hanya berumur sehari karena dipanggil ke HaribaanNya. Innalillahi wainna ilaihi roji’uuun…

Sekkau kembali berduka, karena beberapa waktu sebelumnya telah meninggal dunia ayahanda Kapten Tek Dwi Asmoro, kemudian disusul dengan meninggalnya istri Kapten Tek Suratno. Yah, jika Tuhan sudah menghendaki, siapapun jika saat kematiannya tiba pasti akan meninggal. Kullu nafsin dzaikotul mauut....

Pada kesempatan acara pemakaman almarhum Raffa Naufal Farraz Jatnika, demikian nama sang bayi yang hanya berumur sehari buah hati Kapten Adm Lani dan Bpk Jatnika, di TPU Kebon Pala Halim, hadir Komandan Sekkau Kolonel Pnb Sugihardjo, para Kadis dan Kadep, dostun, serta antap Sekkau.

Segenap keluarga besar Sekkau mengucapkan ikut berduka cita dan belasungkawa, semoga Keluarga Besar Kapten Adm Lani Sriamtina diberi kekuatan iman, kesabaran, dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Khusus Kapten Lani, semoga pula segera diberi kesembuhan sehingga segera bisa menatap hari esok yang lebih cerah. Yakinlah bahwa Raffa kelak akan masuk sorga ”tanpa pemeriksaan” Malaikat dengan mengajak ibundanya serta.***(gus)

Senin, 09 Februari 2009

JABATAN KADISBIN DISERAHTERIMAKAN




Jabatan Kepala Dinas Pembinaan (Kadisbin) Sekkau diserahterimakan dari Letkol Kal Sutardodo Sihombing kepada Letkol Kal Ahsanul Amaly dalam suatu upacara dipimpin Komandan Sekkau, Kolonel Pnb Sugiharjo di Gedung Pramana Sala Sekkau, Senin (9/2).

Ahsanul Amaly, alumnus AAU 1990, sebelumnya adalah dosen/patun (dostun) Sekkau. Sedangkan Dodo, alumnus Sepawamil 1990 Gel. I, selanjutkan ditarik ke Mabesau sebagai salah satu Pabandya di bawah Paban V Srenaau.

Dalam sambutannya Komandan Sekkau Kol Pnb Sugiharjo mengatakan, tugas seorang Kadisbin tidaklah ringan karena meliputi aspek personel dan logistic. “Khusus di lingkungan Sekkau, seorang Kadisbin bertanggung jawab untuk mampu membantu komandan dalam memperlancar tugas-tugas operasional pendidikan sekaligus dalam pembinaan personel jajaran Sekkau,” tegas Sugiharjo yang mantan penerbang helicopter ini.

Oleh karena itu, tambah Sugiharjo yang alumnus AAU 1982, kepada pejabat baru hendaknya segera menyesuaikan diri dengan medan tugas barunya. “Saya yakin Letkol Amaly mampu karena sebelumnya telah berada di lingkungan Sekkau sebagai dostun, sehingga setidaknya telah mengenali lingkungan Sekkau dengan segala dinamikanya,” ujar Sugiharjo.

Hadir pada kesempatan tersebut para pejabat dan para dostun Sekkau, serta anggota tetap Sekkau baik sipil maupun militer. Selesai upacara, Komandan Sekkau berkenan memberikan kenang-kenangan kepada mantan Kadisbin.***(gus)

Selasa, 03 Februari 2009

UJIAN OH UJIAN




Namanya sekolah ya pastilah ada ujiannya. Sekolah tanpa ujian bagaikan perempuan tanpa busana: berbahaya. Demikian pula dengan Sekkau, lembaga pendidikan tercinta kita, tempat komunitas pecinta ”buah mangga dan buah zaitun” (aku bangga jadi patun) berkumpul untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi (NKRI Harga Mati!). So pasti juga menggelar ujian yang harus diikuti oleh para pasisnya.

Tak semua MP (mata pelajaran) ada ujiannya, memang. Khususnya yang bersifat introduksi ataupun ceramah, tapi yang lain pada umumnya memberlakukan adanya ujian. Untuk apa? Ya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman para pasis terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Secara normatif, suka tidak suka, setuju tidak setuju, yah apa boleh buat, tujuan ujian antara lain memang untuk menentukan NILAI.

Perkara nilai ini memang debatable. Pro kontra. Yah, seperti malam dan siang, itu hal jamak dan seyogianya diterima saja apa adanya. Yang PRO bilang: nilai penting untuk menentukan ranking, juga untuk mengukur kemampuan seseorang. Yang KONTRA bilang, buat apa nilai jika pada akhirnya subyektifitas sang penilai terlibat di sana? Wela, ga usah dilanjutkan saja kalau debatnya macam begini.

Kembali ke...laptop, eh, ujian. Beberapa waktu yang lalu terjadi „tsunami lokal“ yang cukup hebat di kalangan pasis Sekkau A-85. Ada perkara apa? Istilah kerennya ya semacam tak singkronnya antara das sein dan dan das sollen, antara harapan dan kenyataan. Sebuah pelajaran yang diduga akan diujikan secara „OPEN BOOK“ (OB) ternyata malah „CLOSED BOOK“ (CB). MP yang dimaksud adalah „Jukminu“ (petunjuk administrasi umum) TNI.

Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, biasanya MP yang satu ini memang selalu diujikan secara OB karena memang jenis dan sifat pelajarannya sangat TEKNIS. Pikiran pasis „lha mosok pelajaran gituan kok dihafalkan, ga mungkinlah, kayak ga ada kerjaan lain“. Eh entah gimana juntrungnya, ketika tiba hari ujian dan mereka masuk kelas, wadow, ternyata aturan yang berlaku adalah ujian CB! Para pasispun pada saling pandang dan sejurus kemudian suara menggelegar patun pengawas ujian menyadarkan mereka untuk menerima kenyataan pahit itu. Suka tidak suka, ujian pun harus mereka kerjakan, meski hati nggrundel dan kepala berdenyut-denyut menahan kekesalan....***(gus)

Senin, 02 Februari 2009

LEMBAR MERAH DAN DISKUSI











Sekolah tentara seperti Sekkau dan Seskoau (tampaknya juga hingga di Sesko TNI sampai Lemhannas, ga tau persis sih karena saya belum mengalaminya), yang namanya ”lembar merah” dan ”diskusi” sudah menjadi menu utama selama masa pendidikan berlangsung.

Lembar Merah (LM) adalah sebutan untuk kertas penugasan pembuatan karya tulis berfomat Kertas Karya Acuan (KKA) bagi setiap pasis yang kebetulan memang berwarna merah. Di lembar merah itulah lembaga Sekkau melalui departemen-departemen yang ada (Dep Jemen, Dep Ops, Dep. Mastra, Dep. Juang), menggelontorkan lembar merah yang totalnya sekitar 30an penugasan.

Bagi pasis yang “canggih”, biasa nulis, bekerja dalam tekanan, sebetulnya ya gak masalah menghadapi LM yang datangnya bertubi-tubi, masuk ke loker masing-masing pasis. Tapi faktnya tak sedikit dari pasis yang sepertinya “mendem” oleh LM! Terbukti dari KKA yang mereka buat tampak yang dibuat asal-asalan dan acak-acakan.

Dari KKA itulah kemudian setiap masalah yang ditentukan didiskusikan oleh masing-masing kelompok di ruang kelompok masing-masing pula. Pada saat diskusi inilah, peran perwira penuntun (patun) sangat besar untuk menjaga agar jalannya diskusi berlangsung on the right track. Diskusi dipimpin oleh ketua diskusi yang berlaku bergiliran, didampingi seorang sekretaris diskusi dan notulen.

Ajang diskusi ini sesungguhnya sebagai “laboratorium” bagi para pasis untuk melatih bicara efektif, mempertahankan argumentasi, sharing isi pikiran, dan lain-lain. Oleh karena itu sungguh sayang jika ada pasis yang tidak memanfaatkan forum diskusi ini justru karena KKA yang mereka buat adalah hasil “bajakan” alias “taipak” para senior terdahulu. Harusnya selama sekolah mereka punya kesempatan untuk berpikir orisinil, bukan malah mangandalkan pikiran bajakan “dotcom” (sedot computer). Kasian deh lu!***(gus)

Kamis, 29 Januari 2009

SELAMAT JALAN MAS TATA DAN MAS ROSO




Ada saat datang, ada saat pergi. Begitu pulalah dengan sosok Patun, dalam hal ini Letkol Pnb Tata Budi Pratama dan Letkol Lek Suroso Sakrim. Keduanya harus meninggalkan lembaga Sekkau setelah Skep Kasau turun dan di dalamnya tercantum nama mereka. Tata promosi jadi juragan Tasik, persisnya sebagai Komandan Lanud Wiriadinata (Tasikmalaya), sedang Suroso ditarik ke Disdikau sebagai Kasidikjurba yang ngurusi para bintara sekolah apa saja.

Tanpa terasa Tata mengaku sudah 2,5 tahun jadi patun, sedang Roso sebenarnya baru 1,5 tahun dan sedang hot-hotnya nge”blog” (ilmu yang ditularkan oleh Presdir Smart Institute Letkol Sus M Agus Suhadi, dan kini mewabah ke sejumlah patun lainnya), menikmati fasilitas free hotspot di lemdik Sekkau tercinta. Ya namanya tentara, pastinya ”bergerak atas perintah”. Kalau orang Jawa bilang ”sak dermo nglakoni”.

Tapi mereka pantas bersuka-cita dan bersyukur, karena kepindahan mereka pastinya bernuansa ”better than before”. Pendek kata: nak nan! (enak tenan!). Atas dasar itu, Komandan Sekkau Kolonel Sugiharjo berkenan menggelar acara makan soto, bubur ayam, dan mie tahu kocok, plus es cendol sambil diiringi organ tunggal yang 90% ndangdutan karena ”by request”, Kamis (29/1).

Biasalah, tentara dari jaman orba sampai reformasi sekarang masih musik ndangdut kegemarannya. Seluruh warga Sekkau termasuk ibu-ibu pengurus PIA AG Sekkau asuhan Ibu Sugiharjo ikut menyemarakkan acara.

Tak lupa komandan juga memberikan kenang-kenangan kepada keduanya. Selamat jalan Mas Tata dan Mas Roso, semoga kalian meraih sukses di tempat yang baru. Pokoke keep in touch sama kita-kita yang masih setia dengan ”buah mangga buah zaitun” (aku bangga jadi patun). Merdeka!!!***(gus)

Senin, 19 Januari 2009

MASA ORIENTASI PASIS SEKKAU 85 DITUTUP
















Komandan Sekkau Kolonel Pnb Sugiharjo menutup masa orientasi (MO) pasis Sekkau Angkatan ke-85 dalam suatu upacara di Kampus Sekkau, Halim, Jum’at (16/1). Masa orientasi berlangsung dua minggu dimulai sejak pendidikan Sekkau A-85 dibuka oleh Komandan Kodikau, Marsda Sukirno, SE MM.

Dalam sambutannya Kol Pnb Sugiharjo menegaskan bahwa dengan telah selesainya MO maka diharapkan para pasis makin mengenal lingkungan pendidikan Sekkau, baik komandannya, para patunnya, lingkungannya, dan tak kalah penting adalah mengenal rekan-rekan mereka sendiri seangkatan.

”Karena dengan saling mengenal itu maka kalian akan lebih bersemangat dalam menjalani masa pendidikan yang akan berlangsung enam bulan ke depan,” tegas Sugiharjo yang mantan penerbang helikopter itu.

Dikatakan pula bahwa MO merupakan fase awal yang harus dilalui oleh semua pasis agar mereka memahami filosofi pendidikan Sekkau sebagai dikbangum (pendidikan pengembangan umum) tingkat taktis untuk mencetak para ”manajer lapangan”.

Seusai penutupan dilanjutkan dengan ”ritual pembaptisan” dengan guyuran air yang disemprotkan dari mobil pemadan kebakaran milik Lanud Halim Perdanakusuma, serta pelantikan pengurus Senat oleh Komandan Sekkau.***(gus)

Selasa, 13 Januari 2009

BE A GOOD TEAM BY GAME



































































Beruntunglah pasis Sekkau 85, karena di awal pendidikan ini mereka memperoleh pengalaman melalui berbagai „psygame“ dalam format permainan ringan (bahkan mirip permainan „playgroup“). Tujuan dari seluruh permainan ini adalah untuk saling mengenal dan menjalin kerjasama serta ”kepercayaan” antar teman.

Permainan tersebut antara lain ”pohon tumbang”, yakni salah seorang pasis berdiri di atas meja kemudian menjatuhkan diri lalu diterima oleh teman-temannya. Jika tidak kompak, bisa dipastikan si teman yang jadi ”pohon” bakal takut karena kuatir teman-temannya membiarkankan dia jatuh ke tanah. Di sini diajarkan sikap ”trust” antar teman. Jika ”ada dusta diantara kita”, bagaimana mungkin ada yang mau berkorban menjatuhkan diri jadi pohon tumbang?

Lalu ada permainan mirip ”egrang” dimana salah seorang pasis berjalan menggunakan alat berupa kayu dibentuk segitiga. Untuk bisa berjalan atau melangkah mutlak harus dibantu teman-temannya yang mengendalikan menggunakan tali. Berani gak kompak dijamin jatuh dan tak mungkin bisa ”melangkah”.

Ada lagi permainan yang kita sebut saja ”ular naga buta” atau blind dragon. Ya ini permainan ular naga-ular nagaan, setiap kelompok hanya satu orang saja yang matanya terbuka yang bertindak sebagai ”pengendali”di bagian ekor, yang lain matanya ditutup semua. Mereka harus mampu berjalan secara zig zag untuk menghindari tanda pembatas, ya ibaratnya berjalan secara ”slalom”lah.

Yang tak kalah unik adalah permainan untuk memindahkan ”bom” ke tempat yang aman. Jika tak kompak dan hati-hati, dijamin bom akan jatuh dan meledak sehingga tubuh mereka bakal hancur berkeping-keping! Seluruh permainan di atas dilaksanakan di Lapangan Olahraga Kohanudnas. Permainan selesai? Belum, karena sejumlah permainan yang ”asyik deh” sudah menanti di Kampus Sekkau.

Gembira-ria

Sumpe deh, kata orang betawi, Angkatan 85 ini memang patut bersyukur. Berbeda dengan angkatan sebelum-sebelumnya, kali ini jajaran patun telah bertekad untuk memberikan yang lebih baik dan lebih kreatif untuk adik-adik mereka.

Dimandori, eh, dimotori oleh Kordostun (godfather-nya para patun) Letkol Tek Danet Danendra, permainan-permainan kreatif yang sepintas laksana permainan anak-anak TK telah memberikan pengalaman yang luar biasa bagi para pasis dalam mengawali masa pendidikan di kampus Sekkau tercinta ini.

Seluruh atmosfer permainan tak ada yang berat dan menegangkan, dengan kata lain semua serba gembira ria penuh canda dan ketawa. Ada yang disebut dengan permainan „bulldozer“, sepatu raksasa, susun kubus, memasukkan air, bola voli empat lapangan, sampai dengan „perang“ pistol air. Sepintas seperti permainan sepele, padahal semuanya mengandung muatan pendidikan dan ajaran kejiwaan yang bernilai tinggi.

Dengan segala effort yang sudah diperjuangan oleh jajaran patun serta dukungan Komandan Sekkau, mudah-mudahan kualitas hasil didik di Angkatan 85 sekarang ini akan jauh lebih baik dari angkatan-angkatan sebelumnya. Ya nggak?***(gus)